Rabu, 17 Agustus 2016

Marketing: Segmenting, Targeting, & Positioning

Hi, Kaskusers

Selamat datang di threads pertama ane

Ane baru lulus setahun dan disini saya ingin membagi sedikit ilmu saya pelajari selama lima tahun :mewek . Kenapa saya membuat tulisan ini karena banyaknya antusiasme masyarakat Indonesia, khususnya kaskuser untuk berwirausaha. Namun, penuturan dari teman saya yang sempat membuka konsultasi bisnis, ternyata masih banyak yang awam tentang bagaimana bisnis itu berjalan. Beragam buku yang mendorong orang untuk berwirausaha, tapi apakah ada buku yang mengungkap secara lengkap tentang bagaimana bisnis itu berjalan? atau pahitnnya ketika memutuskan untuk berwirausaha dan membuat suatu bisnis?

Dalam bisnis ada empat topik utama yang dapat diperhatikan mulai dari keuangan, operasi, sumber daya manusia, dan pemasaran. Topik-topik khusus lainnya merupakan turunan dari keempat topik utama ini. Tapi, sekarang saya ingin berbagi mengenai pemasaran, khususnya mengenai STP (Segmenting, Targeting, & Positioning) atau dalam bahasanya segmentasi, sasaran, dan pemosisian dasar dari pemsaran yang harus diketahui para pemasar.

[B]Segmenting[/B]
[QUOTE][img]http://images.wisegeek.com/market-segmentation.jpg[/img]
Segmentasi adalah tentang bagaimana membagi sasaran pasar yang luas menjadi berbagai bagian berdasarkan lokasi, hobi, atau bahkan sifat atau perilaku berdasarkan produk yang dipasarkan. Kenapa harus dibagi-bagi? Pembagian ini berguna untuk mengetahui informasi mengenai calon konsumen. [/QUOTE]

[B]Targeting[/B]
[QUOTE][img]https://jonahjeng.files.wordpress.com/2015/02/american-sniper-scope-close-up.jpg[/img]
Jika penembak jitu yang handal adalah mereka yang mampu menembak sasaran dengan tepat, pemasar yang baik adalah yang mampu membidik :heart: konsumen dengan tepat. setelah agan membagi-bagi konsumen agan berdasarkan katagori yang sudah agan bikin, langkah selanjutnya adalah membidik calon konsumen. Pilih calon konsumen yang sesuai dengan produk yang agan jual. Misalkan agan berjualan jaket, maka target pasarnya adalah mereka yang tinggal digunung, bukan yang tinggal dipantai karena :mads gerah broo. [/QUOTE]

[B]Positioning[/B]
[QUOTE][img]https://strategicthinker.files.wordpress.com/2012/05/perceptual-map.jpg[/img]
Berikutnya adalah positioning. Nah pada tahap ini agan harus memperhatikan para pesaing agan. Dengan memetakan produk agan, agan menjadi tahu bagaimana persepsi konsumen dibadingkan dengan pesaing. Tentu agan tidak harus unggul disemua bidang, tapi memiliki keunggulan disatu bidang, dan menggunakannya untuk dipasarkan jauh lebih baik dibandingkan dengan produk yang biasa-biasa saja.[/QUOTE]

Maah gan kalo thread ane masih nubee :malu

Kamis, 25 Februari 2016

Raksasa vs Bajak Laut

Memang ini berita lama, tapi tetap saja menggangu pikiran saya. Bagaimana mungkin raksasa Nokia jatuh di "sarangnya" sendiri. Kekalahannya bahkan mampu mengubah kebijakan untuk "offshoring" dan diakuisisi oleh Microsoft. Namun sebelum kesana, mari kita lihat perjalanan Nokia, dari pabrik pengolahan kayu hingga menjadi raksasa ponsel.

Bermula...
Nama Nokia berasal dari Nokianvirta, nama sungai yang digunakan pada pabrik pengolahan kayu kedua Fredrik Idestam, Nokia Ab, yang juga mendirikan PLTA tiga puluh tahunan kemudian. Setelah Perang Dunia 1, Eduard Polón dengan Finnish Rubber Works-nya mengakuisisi Nokia Ab. Kemudian, pada tahun 1922 mengakuisisi Finnish Cable Works yang didirikan oleh Arvid Wickström, pada tahun 1912. Ketiga bisnis ini berjalan mandiri hingga tahun 1967, didirikanlah perusahaan induk Nokia Corporation. Bisnis Nokia Corporation seperti perusahaan-perusahaan sebelumnya yang berfokus pada kertas, karet, kabel, dan elektronik hingga berkembang pada sektor turunannya seperti kertas toilet, ban sepeda dan motor, TV, perlengkapan militer, hingga sepatu boots karet yang jejaknya masih bisa dilihat disini. Seperti perkataan Bruce Wayne kepada Mr. Earl pada film Batman Begin "it's all a bit technical, but the important thing is that *my* company's future is secure.". Yup, Nokia Corporation akhirnya mampu membuatnya menjadi salah satu perusahaan terbesar dunia, namun lebih lengkapnya akan saya jelaskan nanti.



Minggu, 17 Mei 2015

Nilai Ujian Nasional

Sorak sorai pesta kelulusan sekolah masih riang terdengar. Setelah Anies Baswedan, menteri pendidikan yang baru, UN tidak lagi menjadi momok yang menakutkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya UN menjadi penentu lulus-tidak lulusnya siswa dalam menempuh pendidikan disekolah. Seperti jaring yang menseleksi bagus tidaknya sebuah benda. Banyak siswa yang stres, bahkan ada yang mencoba bunuh diri terkait Ujian Nasional. Bijaknya pemerintah terkait perubahan paradigma UN dirasa tidaklah lengkap tanpa sistem kompensasi terkait dengan nilai rata-rata Ujian Nasional. Nilai rata-rata tiap sekolah masih menjadi momok bagi pimpinan sekolah atau pimpinan daerah masing-masing.
Mari kita anggap sekolah sebagai mesin yang memproduksi siswa lulusan. Mesin itu memproses input berupa calon siswa yang diproses dengan kegiatan belajar-mengajar, outputnya adalah siswa lulusan dengan standar berupa UN. Jadi dalam sekolah ada input, proses, dan output.
Untuk memproduksi siswa unggulan diperlukan tidak hanya sebuah proses yang baik, namun juga input yang baik pula. Pada input ini antar sekolah bersaing, persepsi orang tua terhadap sekolah berperan besar dalam input sekolah. Sekolah yang dikenal berprestasi akan menjadi tujuan utama orang tua menempatkan anaknya, dan begitu seterusnya hingga akhirnya tinggal sekolah sisa, sisihan dari calon siswa yang gagal masuk sekolah prestasi, atau siswa yang orang tuanya tidak mampu menyekolahkan anaknya disekolah prestasi, karena sekolah prestasi terkenal akan mahalnya. Walau pemerintah mewajibkan kepada warga negaranya untuk sekolah 9 tahun, bahkan ada yang 12 tahun. Dan katanya, sekolah itu gratis, nyatanya sekolah prestasi mahal. Karena sekolah prestasi akan menambahkan ini dan itu untuk menunjang ini dan itu, sekali lagi, demi prestasi sekolah. Hey, sepertinya mirip dengan skema kapilis yang kita dengar atau baca dimedia!
Sekolah tidak hanya mendapat pendanaan dari orang tua, tapi juga pemerintah. Bentuknya berbagai macam, tapi sederhananya berupa kompensasi akibat dari prestasi masing-masing sekolah. Salah satu yang menjadi nilai adalah UN. Walau UN tidak menjadi standar kelulusan, tapi masih memiliki nilai prestisius bagi sekolah. UN menjadi patokan mana sekolah top mana sekolah tidak top didaerahnya. UN juga menjadi nilai bagi pemimpin daerah, dibandingkan dengan pemimpin daerah lainnya. Sehingga pimimpin sekolah atau pemimpin daerah dapat bangga atau malu dengan UN ditempatnya. Selain bangga juga senang, karena dapat pendanaan lebih, berupa bantuan, bonus atau apalah yang menjadi kompensasi bagi sekolah prestasi. Disinilah yang menurut saya harus diubah!
Sistem kompensasi dapat menjadi alasan tiap sekolah, didorong pemimpin daerah untuk bertindak apapun agar nilai UN tetap tinggi. Sehingga UN tetap menjadi alasan bagi sekolah meminta tambahan ini dan itu dari orang tua siswa, kembali lagi demi prestasi sekolah.

UN adalah alat kontrol pemerintah yang efisien, walau tidak menggambarkan kondisi sekolah secara keseluruhan. Pemerintah dapat memetakan posisi sekolah, mana sekolah atas, tengah, dan bawah. Namun sistem kompensasi harus diubah. Dimana, sekolah peringkat bawah menjadi sekolah yang diprioritaskan untuk dibenahi, kemudian sekolah atas harus diapresiasi atas prestasinya. Dengan begini kualitas sekolah bawah dapat meningkat, dan sekolah menengah berusaha untuk menjadi sekolah atas. Selamat menikmati pendidikan di Indonesia.

Arya Cahyanto Yacoub
Mahasiswa yang telah menjadi objek percobaan pendidikan selama 17 tahun
Arya.cy25@gmail.com

Selasa, 30 Desember 2014

Microfinance/Keuangan Mikro lahan beramal dan berjuang

A lack of entrepreneurship, combined with insufficient product demand, may lead to diminishing returns on micro-investment. -SHAHID KHANDKER-

Blog Shahid Khandker di situs worldbank mengingatkan saya pengalaman survei pada salah satu lembaga keuangan mikro di Bandung. Lembaga menyasar masyarakat miskin ini sebagai anggotanya memiliki masalah yang hampir sama dengan masalah yang terjadi di India seperti yang diberitakan diblog Khandker.

Setelah bertukar cerita dengan karyawan LKM (Lembaga Keuangan Mikro) saya mendapati alasan-alasan NPL, salah satunya adalah kurangnya jiwa wirausaha dalam diri anggotanya, diluar moral hazard seperti yang terjadi saat perbankan meringankan syarat kartu kredit. Padahal jiwa wirausaha ini penting, dengan jiwa wirausaha, mereka yang meminjam tidak akan kesulitan dalam melakukan pembayaran atas utang yang sedari awal mereka sudah sepakati. Kewirausahaan akan membantu mereka mengelola keuangan, sehingga menolong mereka keluar dari lingkaran kemiskinan.

Kita semua sadar kalau kemiskinan itu begitu buruk akibatnya, tidak hanya bagi masyarakat, keluarga, atau anak-anak. Kemiskinan sudah menjadi masalah global, tidak lagi mengenal batas negara, semua orang yang peduli berusaha menolong sesama, entah demi alasan kemanusiaan atau lainnya.

Saya pikir, sudah saatnya mahasiswa menyikapi masalah yang dihadapi orang miskin dengan bekal yang mereka terima di"bangku mewah" universitas. Sesedikit apapun ilmu yang mereka dapatkan, tentu akan menolong mereka yang kesulitan tentu dengan cara yang benar. Tentu akan berdampak besar sekali jikalau mahasiswa mau bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti Pemerintah, Pangusaha/Perusahaan, dan LKM mau menyelesaikan masalah kemiskinan, salah satunya terkait dengan "Jiwa Kewirausahaan" yang menjadi masalah pada masyarakat miskin.

Semoga tulisan ini menjadi gethok tular, bagi mereka yang merasakan hal sama dengan saya.

Rabu, 17 September 2014

Belajar Investasi Saham dengan simulasi saham (virtual trading)

Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia
Karena entri ini cukup populer saya menambahkan beberapa informasi yang mudah-mudahan membuat anda yang membaca blog ini semakin yakin untuk bertransaksi di bursa saham.

Sebagai mahasiswa manajemen investasi bukan kata asing. Masyarakat Indonesia dengan pendapatan per kapita yang semakin besar didodorong untuk masuk bursa, dengan masuk bursa diharapkan bisa menjadikan posisi tawar investor lokal lebih besar. karena, investor lokal masih sedikit dan kapitalisasi masih rendah.
Untuk mengenalkan lantai bursa kepada investor pemula sangat penting untuk memberikan edukasi. namun sulit menemukan aplikasi maupun simulasi saham berbasiskan web untuk IDX. Dengan adanya simulasi tentu calon investor akan merasa lebih aman, tanpa harus terlalu khawatir karena baru mencoba masuk di bursa.

Sebagai warga negara Indonesia saya kira kita wajib bertransaksi di bursa saham, jika mempunyai pengetahuan dan dana tentunya. Karena jumlah investor saham dalam negeri cukup kecil baik dari sisi jumlah orangnya ataupun dana yang mengalir di pasar. Bagi muslim, tentu ada ketakutan untuk masuk kedalam bursa saham, karena beberapa ulama ada yang mengharamkan efek. Beberapa efek memang haram menurut saya (saya anggota ISEG, kelompok mahasiswa yang mempelajari sistem ekonomi Islam). Khusus untuk saham sendiri sudah mendapat label Halal dari MUI untuk sebagian saham yang masuk kriteria Hon-Haram. Beberapa sekuritas bahkan sudah mempersiapkan aplikasi transaksi yang sudah mendapatkan label Halal, sekuritas yang saya tahu sudah memiliki aplikasi halal antara lain IPOT dan Mandiri Sekuritas (mohon beritahu jika ada lagi).

Beberapa tahun belakangan santer berita mengenai privatitasi BUMN. Saya sepakat dengan BUMN yang melakukan IPO, namun tidak dengan privatisasi. Karena BUMN adalah pada dasarnya adalah milik rakyat, yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah. Privatisasi BUMN mulai santer ketika krismon 1998, anjuran dari IMF. Karena menurut mereka BUMN tidaklah efisien, dan perlu dilepas ke publik agar tidak menjadi beban negara dan menjadikannya lebih akuntabel. Dengan IPO-nya BUMN yang mengawasi dan berkuasa tidak lagi segelintir orang, sudah jadi rahasia umum jika direksi BUMN yang datang ke senayan pasti dipalakin oleh para freeman, dengan dilepasnya sebagian kecil saham BUMN paling tidak mereka menjadi lebih akuntabel. Ayo, jangan ragu lagi untuk berinvestasi di bursa saham.

Berikut saya berikan link ataupun informasi seputar pasar modal:


Sebelum memulai di BEI. Kita bisa menganalisa pergerakan harga tiap emiten saham melalui laman daring www.google.com/finance atau finance.yahoo.com. Atau juga bisa melihat grafik pergerakan harga saham melalui aplikasi khusus yaitu Chartnexus (silahkan google sendiri).


Aplikasi atau website yang memberikan simulasi saham:

http://events.kontan.co.id/v2/simulsa/login - gratis. Namun hanya dapat memperdagangkan daftar saham dalam LQ45

wingamers.com -  Situs simulasi saham yang memberikan hadiah jika mendapat poin tertentu. berbayar

kresnadirect.com - situs broker saham yang berdasarkan aplikasi online. website ini memberikan fasilitas simulasi saham. berbayar

http://www.megaoptions.com/vtrade.php



Website simulasi saham luar:

www.howthemarketworks.com/trading/ - situs simulasi saham amerika berdasarkan web. gratis

http://www.investopedia.com/ -  situs yang memberikan informasi mengnai saham kepada anggota berbayar. namun disitus ini anda dapat mencoba bermain simulasi saham Amerika. gratis

http://www.megaoptions.com/about.php - situs yang memberikan simulasi saham berbasiskan web. gratis

http://www.marketwatch.com/game/ - situs yang memberikan simulasi saham berbasiskan web. gratis

http://virtualtrader.co.uk/ - situs yang memberikan simulasi saham berbasiskan web. gratis



Selamat berinvestasi,



Jumat, 12 September 2014

Indonesia dan globalisasi

Maraknya pemberitaan ACFTA setahun terakhir membuat dipandang dengan berbagai sikap. Ada yang memandangnya sebagai ancaman, ada juga yang memandangnya sebagai tantangan, bahkan kesempatan. Namun dengan adanya kesepakatan pasar bebas antar negara membuat masyarakat Indonesia makin sadar bahwa dunia global sudah didepan mata.

Dunia yang kita lihat melalui globe adalah sebuah bola tidak bundar sempurna, dipenuhi oleh lautan berwarna biru diisi beragam pulau atau benua yang dihuni oleh manusia, pulau-pulau maupun benua itu dipisahkan oleh garis imajiner yang disepakati sebagai batas negara. Inilah dunia yang kita kenal melalui ratusan satelit yang berputar mengelilingi bumi. Batas-batas alami atau yang dibuat oleh manusia menantang jiwa-jiwa petualang untuk mencari tahu bahwa adanya dunia lain diluar sana.

Perdagangan, hasil keterbatas seorang manusia untuk memenihi kebutuhan hidup mendorong orang-orang untuk menjelajahi. Arkeologi menemukan makam manusia bersama seekor kuda, binatang pertama yang ditaklukan oleh manusia, berusia ribuan tahun dibenua asia tengah, membawa benda-benda yang tidak terdapat didaerah sekitar membuktikan bahwa penjelajahan sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu. Bahan muminisasi didalam makam raja Mesir yang hanya ada di sebuah daerah kepulauan nusantara, Barus namanya masih bertahan hingga kini. Perkampungan Viking di Amerika Utara sebelum wabah emas “dunia baru” Cerita Marco Polo, seorang pedagang Itali yang menelusuri asal muasal benda-benda eksotis dari timur, berujung pada negara Cina, penyimpan rahasia ulat sutra dan kertas, dengan menelusuri Jalur Sutra. Lalu, memburuknya hubungan eropa dengan asia tengah membuat kerajaan Portugis dan Spanyol, yang bersaing satu sama lain, mengirimkan penjelajah, nama-namanya juga dikenal sebagai pembantai, bertemu di kepulauan Maluku, membuktikan tidak adanya monster laut dan air terjun di ujung dunia. Kaisar Cina mengirimkan armada Cheng Ho untuk berhubungan langsung dengan para mitra dagangnya. Tidak lupa Ibn Batuta yang dipercaya sebagai penjelajah pertama yang mengelilingi bumi sebelum penjelejahan “dunia baru”.

Indonesia bukanlah baru terhadap penjelajahan. Sebelum barus menjadi bahan untuk mumi, manusia Indonesia sudah sampai di Madagaskar membawa binatang dan tanaman lokal. Sriwijaya memiliki kekuasaan sampai Siam. Dan sumpah terkenal seorang mahapatih untuk tidak mengkonsumsi palapa untuk menyatukan nusantara. Sebelum Gajah Mada, nusantara adalah kerajaan-kerajaan kecil tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Para raja dan pemimpin negara saling memperebutkan wilayah. Indonesia negara dengan wilayah tersebar di 17.508 pulau ditambah 3 mil laut dari garis pantai. Menyakinkan dunia bahwa Indonesia adalah sebuah wilayah kesatuan tidaklah mudah. Perjuangan panjang dikancah internasional akhirnya melahirkan UNCLOS yang sebelumnya dimulai dengan Deklarasi Djuanda 1957.

Visi tatanan dunia baru, menyatukan dunia dalam satu kesatuan terus meriak semenjak perang dunia berakhir. Konspirasi-konspirasi hanya mendengungkan pemanfaatan keserakahan atas keserakahan lainnya. Sebelum kata perikemanusiaan, Sukarno mengenjawatahkannya dalam draft dasar negara pada sidang BPUPKI dengan kata internasionalisme.

Globalisasi bukanlah hal yang baru. Isu ini sudah bergema sejak dahulu, terbentuknya PBB, LBB, lalu berita-berita yang disampaikan para utusan Tuhan, sampai nabi Adam adalah proses dan bukti bahwa masyarakat dunia adalah satu. Rakyat haruslah siap menghadapi dunia. Indonesia bisa menjadi mercusuar. Lalu, kaum intelektul, kelas masyarakat terdepan dalam informasi, pengetahuan, dan ilmu, yang membuatnya nyata.


Salam Bhineka Tunggal Ika!

Rabu, 27 Agustus 2014

11 alasan umum kenapa bisnis kecil gagal

Wirausaha: musuh terburuk 

Sebagian besar wirausaha masuk kedalam pasar dengan harapan yang tinggi akan keberhasilan, akan tetapi banyak menghadapi kekecewaan ketika bisnis mereka gagal. Faktanya, jumlah binis kecil yang gagal lebih banyak dibandingkan dengan bisnis yang baru memulainya pada tahun ini. Saat ini 400.000 bisnis baru telah dibuat tiap tahunnya, 470.000 bangkrut, sehingga menimbulkan defisit sebesar 70.000, berdasarkan sensus Amerika.
Tidak semua bisnis tersebut melanjutkan bisnisnya karena bangkrut atau gagal – sebagian karena pemiliknya mendapatkan pekerjaan atau pensiun- tapi sebagian besar lagi karena bisnisnya gagal. Dan seringkali karena pemiliknya mendapatkan hal-hal yang tak terduga karena hal tersebut belum mereka antisipasi sebelumnya.
“banyak perusahaan gagal secara tidak terduga,” kata pengacara Andrew Sherman, partner di Jones Day di Washington D.C., yang memberikan nasihat bisnis pada isu yang mempengaruhi pertumbuhan dan strategi. “mereka terkejut ketika gagal,; mereka tidak mempunyai sabuk pengaman.”
Kabar baiknya? “banyak resiko dapat dihindari, tapi hanya jika mereka merencanakannya” kata Sherman.
Langkah pertama dalam pembelajaran untuk menghindari kegagalan dalam berbisnis adalah mengerti apa yang menyebabkan hal tersebut. Ini 11 kesalahan umum kenapa bisnis gagal.
Oleh Elaine Pofeldt
Diposkan 30 Juli 2014


Sorry We're Closed

Kantong kosong

“alasan utama orang-orang gagal, mereka kehabisan uang” kata David Goldin, CEO dan presiden dari AmeriMerchant, penyedia “merchant cash advance”.
Penelitian membenarkannya. Laporan 2013 Global Entrepreneurship Monitor, yang dibuat oleh Babson Collage dan universitas launnya, menemukan bahwa alasan paling atas untuk tidak melanjukan bisnis di U.S. adalah masalah mendapatkan finansial dan kurangnya profitabilitas-masalah yang menjangkiti lebih dari setengah bisnis yang gagal. Hanya beberapa negara yang mengalami masalah yang sama: Jepang, Korea, Yunani, Protugal, Irlandia, dan Spanyol.
Tentu, ini bukan hanyas ekedar kegagalan untuk menghasilkan uang yang menyebabkan bisnis gagal. Banyak bisnis dengan pendapatan tinggi yang menderika karena rendahnya cash flow. Mereka tidak dapat menggaji atau tetap menjalankan bisnisnya karena ada jurang besar ketika mereka menyelesaikan proyek dan ketika mereka mendapatkan bayarannya-terkadang karena masalah sederhana, seperti gagal untuk membayar tagihan dengan semestinya.
Ini bukanlah kesalahan pemula: sekitar 37% pemilik bisnis berpengalaman terkadang kekurangan uang kas ketika mereka membutuhkannya untuk menutupi pengeluaran bisnis, berdasarkan pada laporan tahunan oleh Corporation for Enterprise Development, sebuah lembaga non-profit yang berada di Washington D.C., mereka fokus menolong mengembangkan rumah tangga dengan pendapatan rendah dan menengah dan mempertahankan aset mereka. Bisnis yang telah disurvey telah memiliki pendapatan mulai dari $49.999 ke lebih dari $1.000.000 per tahun.

Percaya Diri Berlebih

terkadang kritik terhadap konsep bisnis yang baru ada benarnya: pendiri membuang waktu mereka pada ide yang tidak berguna atau tidak tepat waktu- dan tidak melakukan uji coba dan penelitian pasar untuk mencari tahu. “jika kalian tidak mengikuti trend, maka ada besar kemnungkinan pelanggan tidak membeli jasa kalian” Kata David Golding, AmeriMerchant.
Ask jordan Malik. Wirausaha dari levitton, New York, co-founded LookTrade pada tahun 1999, perusahaan teknologi yang membantu perusahaan untuk menjalankan lelang daring mereka sendiri. Bisnis tersebut meledak pada tahun 2001, selama ledakan bisnis dot-com. “kenyataannya adalah, semua orang melakukan hal yang sama dengan eBay,” kata dia, melihat kembali dengan 20-20 kebelakang.
Malik belajar dari kesalahannya. Dia meninggalkan dunia star-up dan kemudian mendapatkan pekerjaan di agensi periklanan besar, menjual produk di eBay dan Amazon. pada tahun 2009, setelah kehilangan pekerjaannya, dia terjun kembali ke dalam dunia wirausaha dan memulai apa yang menjadi sebuah kelompok ari liam bisnis kecil yang menolong pedagang e-commerce untuk meningkatkan penjualan dan pendapatan., menawarkan sistem yang dia kembangkan sendiri. Situs-situs, termasuk FindSpotter.com, memberitahu pedagang untuk menjual barang yang akan dijual di Amazon dan dimana mereka dapat menemukannya. Sekarang mereka secara kolektif menghasilkan lebih dari $500.000 pendapatan per tahun untuk seorang wirausahawan.
“saya memeberi saran para pengusaha untuk tidak keras kepala mengenai sebuah ide ketika semua orang mengatakan bahwa idenya tidak akan berhasil,” kata Malik, sekarang berusia 43 tahun.

Buruk dalam menetapkan strategi harga

Apa yang konsumen katakan kepada peneliti pasar tentang apakah mereka akan menghabiskan uangnya tidak selalu sama dengan kenyataan. hal tersebut sampai kalian mengujinya dipasar, sulit untuk memastikan apakah konsumen potensial akan membayar atas harga yang sudah direncanakan.
Salah satu alasan wirausaha Jordan Malik percaya, LookTrade gagal karena ada solusi yang lebih murah untuk membuat lelang online dari apa yang mereka tawarkan. “ jika orang-orang menginginkan sebuah solusi yang disesuaikan, disana ada pilihan yang menghabiskan biaya sekitar $19.95 per bulan, solusi kami sekitar ribuan dollar,” kata Malik. Ketika dia dan rekannya berdebat untuk merubah model bisnis, usahanya meredup. “kami sangat bertekad, kami menghiskan uang kami,” kata dia.
Resiko umum lainnya adalah perusahaan gagal untuk menetapkan harga yang menghasilkan keuntungan. Dengan banyak jasa menjadi komoditas yang mengglobal, pasar digital, hal terbut menjadi sulit untuk menaikan harga, tetapi hal tersebut bisa menjadi penting untuk tetap untung dan bertahan hidup. Pada bulan April, survei pemilik bisnis kecil oleh bank PNC, 74% dari responden memprediksi harga yang ditetapkan kepada konsumen akan naik pada 6 bulan kedepan dan 37% dari bisnis kecil mengatakan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan harga mereka. Rata-rata menaikan harganya sekitar 1%-2%.

Rekan Bisnis

Tidak ada yang salah dengan debat penuh semangat antar pendiri-pada tingkatan tertentu hal tersebut juga baik pada untuk tata kelola-akan tetapi jika ada konflik berkepanjangan atau salah satu rekan terlalu menganggapnya secara emosional, hal tersebut dapat menghancurkan moral keseluruhan tim.
“kurangnya kolaborasi dan komnunikasi oleh dan antara pemilik tampaknya seperti pertikaian orang tua yang mengarah pada perceraian,” Jaksa Jones Day, Andew Sherman berkata.
Kebanyakan tim yang baru memulai bisnis gagal untuk merencanakan kemungkinan dimana rekannya ada kemungkinan untuk meninggalkannya pada titik tertentu, dimana bisa mengarah pada konflik dan mencederai bisnis kedepannya. 60% lebih pemilik tidak merencanakan dirinya untuk keluar suatu saat nanti, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Securian Financial Services.
Agar bisnis tetap berjalan buatlah perjanjian tertulis antar pemilik saham. “biasanya hal tersebut membutuhkan pengacara yang cukup memakan ciaya,” kata Shane Leonard, CEO dari Stockflare, sebuah perusahan di London yang menawarkan ide pada bisnis yang baru berjalan.
Dua pendiri perusahaan bersama Leonard, didirikan pada tahun 2013, memutuskan untuk meninggalkan operasional sehari-hari perusahaan setelah menemukan bahwa bisnis start-up bukanlah untuk meraka. Mereka tidak mempunyai perjanjian opemilik saham, namun Leonard tetap berhubungan baik dengan mereka. Bagaimanapun, dia menyadari kebelakan, apa yang mungkin terjadi bisa buruk.
“rekan saya meninggalkan bisnis ini dengan cara yang halus karena mereka para profesional berpengalaman, seorang teman dan mendukung dari belakang sebagai investor, bahkan jika mereka bukan sebgai partner bisnis lagi,” kata dia. “bagaimanpun juga, jika mereka tidak seperti itu, tentu hal tersebut akan benar-benar kacau dan membunuh bisnis yang sudah dijalankan.”

Padam semangat

Kebanyakan bisnis didorong oleh energi dan rangsangan dari pemilik.-dan hal ini banyak terjadi disekitar kita. Survei terbaru oleh Manta, jaringan sosial daring untuk bisnis kecil, menemukan bahwa 83% dari pemilik optimis akan bisnis mereka berjalan sekitardua setengah tahun.
Ketika hasrat untuk sukses menghilang, dimana bisa terjadi karena banyak sebab, sebuah bisnis dapat mati dengan cepat.
“pemilik mungkin tidak lagi terjun langsung pada proses bisnis dan sudah digantikan oleh seseorang yang mungkin tidak sebaik orang tersebut,” kata David Goldin, pemilik AmeriMerchant. “alasan padamnya semangat karena mereka lelah semakin bertambahnya usia, hilangnya alasan yang menggerakan bisnisnya, lelah atas bisnis yang sedang dijalankan atau sudah terlalu lama berada dibisnis yang sama, prioritas yang sudah berubah, atau karena kejadian yang berhubugnan ndengan keluarga, seperti kelahiran anak”

Pesan pemasaran yang tidak berubah

Perusahaan besar tahu kalau sangat penting memberikan penyegaran atas merek mereka. Bahkan, perusahaan rental mobil Alvis, yang terjebak dengan pesan klasik “We try harder” untuk 50 tahun, mengubahnya pada tahun 2012 dengan yang baru “it’s in your space” dimana mewakilkan kenyamanan mobil yang meraka tawarkan.
Perusahaan kecil dimana yang kurang dana pemasaran dibandingkan dengan perusahaan besar sering kali mengingkari sisi ini, membawa bisnis mereka pada tingkatan berbahaya. Laporan tahunan 2013 National Small Business Assosiation menemukan hanya 46% dari responden merencanakan untuk mencoba pengiklanan baru dan strategi pemasarn baru pada tahun 2014.
Jika kalian belum memikirkan apapun untuk merek anda baru-baru ini atau menggunakan pesan langsung seperti yang sudah anda lakukan selama 4 tahun kebelakang, itu adalah tanda peringatan bahwa anda telah menjalan bisnis yang sudah ditinggalkan oleh waktu.

Gagal untuk mengikuti revolusi digital

Masyarakat Amerika kini menghabiskan hidup mereka menatap laptop, tablet, dan smartphone, tapi masih banyak bisnis yang menjangkau konsumen daring.
Survei Small Business Technology tahun 2013 oleh NSBA, yang dilakukan pada bulan Agustus, menemukan bahwa 82% dari bisnis memiliki website, namun 72% dari perusahaan tersebut tidak menjual barang atau jasanya secara daring. Hal tersebut mewakilkan hanya terjadi sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2010, ketika 74% mengatakan kalau mereka tidak menjual barang atau jasanya secara daring, dan sedikit perusahaan yang memanfaatkan kesempatan untuk masuk kedalam pasar mobile., sebuah kesempatan yang bagus jika ingin mengapai komsumen muda. Survey ini menemukan, hanya 18% bisnis memiliki web berbasiskan mobile.

Pencurian dunia maya

Tidak hanya perusahan besar yang menjadi sasaran penjebolan data oleh penjahat dunia maya. Hasil penelitian menunjukan, banyak perusahaan kecil menjadi korban, dan hal ini dapat mematikan untuk mereka. SAM Graves, R.-Mo., kepala dari House Subcommittee on Small Business, mengatakan saat beliau berbicara pada tahun  2013 dimana 60% bisnis kecil gagal akibat pencurian dunia maya.
Survey yang dilakukan oleh NSBA pada tahun 2013 tentang Teknologi menemukan bahwa ketika 94% pemilik bisnis kecil melaporkan kalau mereka risau akan keamanan dunia maya, hampir setangah dari mereka telah menjadi korban kejahatan dunia maya. Kejahatan dunia maya dapat berupa waktu yang terbuang sia-sia, layanan menjadi terhambat, dan ribuan dollar hilang. Untuk mereka yang rekening banknya diretas, kerugian rata-rata sekitar $6,927.50.
Diluar resiko terbut, banyak pemilik mengatasi masalah tersebut sendirian tanpa meminta bantuan profesional. Survei yang dilakukan oleh NSBA kepada pemimpin bisnis, 40% mengatakan bahwa mereka mengatasi dukungan teknis oleh mereka sendiri, sementara 32% mengangkat karyawan, hanay 24% yang mempercayakannya kepada penyedia jasa luar.

Meremehkan kompetisi

Bahkan jika anda merupakan David didunia penuh Goliath, itu tidak berarti Goliath adalah satu-satunya rintangan untuk keberadaaan bisnis anda. Wirausahawan membutuhkan perhatian pada pemain baru di industri yang sama. Sayangnya, pemilik bisnis seringkali meremehkan orang baru. Alasannya hanyalah, yang oleh David Goldin disebut sebagai “owner syndrome”, mereka berfikir kalau produk atau jasa mereka adalah yang terbaik.
Terkadang pesaing tidak unggul atas produk mereka yang menyebabkan anda bangkrut. Bisa jadi mereka mengungguli anda pada salahsatu faktor seperti kenyamanan atau TLC (Tender, Loving, Care).
Pertimbangkan hal ini: 66% konsumen pada 1 dari 10 industri, yang dipelajari oleh Accenture tahun lalu, berganti pada perusahaan baru karena layanannya. Lebih buruk lagi, 82% dari mereka merasa kalau perusahaan terbut dapat melakukan sesuatu untuk mencegah mereka berpindah pada perusahaan lain. Jika anda tidak yakin kalau konsumen anda senang atau tidak terhadap bisnis anda, pertimbangkan untuk menggunakan SurveyMonkey untuk mengetahuinya, sebelum mereka membalikan punggungnya.

Terlalu bergantung pada satu konsumen
Sebuah kegembiraan jika berhasil mendapatkan konsumen besar, tetapi pemilik yang mencurahkan waktu dan perhatiannya pada satu atau dua konsumen besar membuat mereka pada posisis yang sangat rentan. Jika bisnis sedang munurun, derita karena hilangnya pendapatan akan mengakibatkan hilangnya pekerjaan karyawan anda, dan gagal untuk mengganti konsumen dalam waktu yang singkat dapat mengakibatkan bisnis anda tutup, bahkan pada kasus pada perusahaan yang besar.
Pada survei anggota yang dilakukan pada tahun 2014, Turnaround Management Society, menemukan bahwa 12,2% bisnis perusahaan gagal karena mereka tidak mempunyai cukup konsumen.

Karyawan yang tidak senang

Jika orang yang melayani konsumen pada kondisi yang tidak bersemangat untuk bekerja, kemungkinan berakibat pada kinerja yang mereka tampilkan dan mengurangi keuntungan perusahaan. Pekerja yang tidak senang mengenai kondisi pekerjaan mereka mungkin tidak akan berusaha lebih baik atau lembur hingga malam hari untuk membantu perusahan dengan inovasi baru, dimana “perusahana kecil dan berkembang menaruh harapan” kata Jones Day.
Gallup menemukan pada penelitian tahun 2013 bahwa 70% karyawan di Amerika tidak terlibat saat bekerja atau secara aktif melepaskan diri dari pekerjaan teman sejawat.
Berita baikn ya untuk wirausahawan: perusahaan kecil lebih baik dibandingkan dengan perusahaan besar untuk membuat karyawannya bersemangat saat bekerja. 42% karyawan perusahaan kecil merasa senang bekerja, dibandingkan dengan perusahaan besar dimana hanya 27%-30% karyawannya merasa senang bekerja.
Apa yang dapat kalian lakukan untuk menghindari keluarnya karyawan? Seringkali, ada sebuah “cultural disconnect”, dimana kata-kata dari pemimpin tidak sinkron dengan kenyataan pada pekerja lini, hal tersebut merupakan sumber masalah, jangan sampai hal tersebut mempengaruhi bisnis anda, kata Sherman. “seperti ketika CEO berdiri dan mengatakan ‘tahun ini kita memotong biaya perusahaan’ tapi tidak menjelaskan bagaimana caranya, namun dia baru saja mencicil Mercedes-Benz 500 terbaru dan membuat berbagai pembaharuan di kantornya.”